Letak Georafis

Propinsi Kalimantan Selatan dengan ibukotanya Banjarmasin terletak di sebelah selatan pulau Kalimantan dengan batas-batas: sebelah barat dengan propinsi Kalimantan Tengah, sebelah timur dengan Selat Makasar, sebelah selatan dengan Laut Jawa dan di sebelah utara dengan propinsi Kalimantan Timur.

ImagePropinsi Kalimantan Selatan secara geografis terletak di antara 114 19″ 33″ BT – 116 33′ 28 BT dan 1 21′ 49″ LS 1 10″ 14″ LS, dengan luas wilayah 37.377,53 km² atau hanya 6,98 persen dari luas pulau Kalimantan.

Daerah yang paling luas di propinsi Kalsel adalah Kabupaten Kotabaru dengan luas 13.044,50 km², kemudian Kabupaten Banjar dengan luas 5.039,90 km² dan Kabupaten Tabalong dengan luas 3.039,90 km², sedangkan daerah yang paling sempit adalah Kota Banjarmasin dengan luas 72,00 km².

Kalimantan Selatan secara geografi terletak di sebelah selatan pulau Kalimantan dengan luas wilayah 37.530,52 km2 atau 3.753.052 ha. Sampai dengan tahun 2004 membawahi kabupaten/kota sebanyak 11 kabupaten/kota dan pada tahun 2005 menjadi 13 kabupaten/kota sebagai akibat dari adanya pemekaran wilayah kabupaten Hulu Sungai Utara dengan Kabupaten Balangan dan Kabupaten Kotabaru dengan Kabupaten Tanah Bumbu.

Luas wilayah propinsi tersebut sudah termasuk wilayah laut propinsi dibandingkan propinsi Kalimantan Selatan. Luas wilayah masing-masing Kabupaten Tanah Laut 9,94 %; Tanah Bumbu 13,50%; Kotabaru 25,11%; Banjar 12,45%; Tapin 5,80%; Tabalong 9,59%; Balangan 5,00%; Batola 6,33%; Banjarbaru 0,97% dan Banjarmasin 0,19%. Secara rinci luas wilayah dan batas wilayah serta panjang garis pantai dapat dilihat pada tabel 1

Daerah aliran sungai yang terdapat di Propinsi Kalimantan Selatan adalah: Barito, Tabanio, Kintap, Satui, Kusan, Batulicin, Pulau Laut, Pulau Sebuku, Cantung, Sampanahan, Manunggal dan Cengal. Dan memiliki catchment area sebanyak 10 (sepuluh) lokasi yaitu Binuang, Tapin, Telaga Langsat, Mangkuang, Haruyan Dayak, Intangan, Kahakan, Jaro, Batulicin dan Riam Kanan.

Tabel 1
Luas Wilayah, Batas Wilayah dan Panjang Garis Batas
Propinsi Kalimantan Selatan Tahun 2006

PROPINSI/
KABUPATEN/
KOTA
DARATAN
(KM²)
LAUTAN
(KM²)
UTARA
TIMUR
SELATAN
BARAT
DARAT
(KM)
Tanah Laut
3,729.30
Kab. Banjar Kab. Tanah Bumbu Laut Jawa Laut Jawa
Tanah Bumbu
5,066.96
Kab. Banjar
Kotabaru
9,422.73
Selat Makasar Laut Jawa HSU, HST, Banjar, Tala
Banjar
4,672.68
HSU, HST HST, Kotabaru Tapin HSU, Tapin
Tapin
2,174.95
HSU, HST HSS Kab. Banjar Barito Kuala
Hulu Sungai Selatan
1,804.94
HST, HSU Kotabaru, HST Tapin HSU, Tapin
Hulu Sungai Tengah
1,472.00
HSU Kotabaru, Balangan HSS HSU, HSS
Hulu Sungai Utara
892.70
Tabalong Kotabaru HST, HSS Kalteng
Balangan
3,599.95
Tabalong
1,878.30
Kaltim Kaltim HSU Kalteng
Barito Kuala
2,376.22
HSU, Tapin Banjar, Kota Banjarmasin Laut Jawa Kalteng
Kota Banjarmasin
367.12
Barito Kuala Banjar Kab. Banjar Batola
Kota Banjarbaru
72.67
Banjar Banjar Tanah Laut Banjar
Kalimantan Selatan
37,530.52
Kaltim Selat Makasar Laut Jawa Kalteng

Jembatan Rumpiang, Harbour Bridge nya Marabahan

Adalah obyek wisata yang jaraknya ± 1 km dari Kota Marabahan dapat dicapai dengan jalan darat ataupun sungai. Waktu tempuh ± 1.45 menit dari banjarmasin dengan menggunakan transportasi darat. Jembatan ini mulai dibagun pada tahun 2003 dan selesai pada awal Tahun 2008.

Jembatan Rumpiang adalah jembatan yamg membentang di atas sungai Barito, kota Marabahan, kabupaten Barito Kuala. Jembatan ini diresmikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 25 April 2008. Dengan hadirnya jembatan tersebut akan memperlancar arus lalu lintas dari Kota Marabahan menuju Banjarmasin dan sebaliknya yang sebelumnya harus menggunakan kapal feri untuk menyeberangi Sungai Barito.

Jembatan Rumpiang sendiri memiliki total panjang bentang 753 meter dengan bentang utama sepanjang 200 meter menggunakan konstruksi pelengkung rangka baja. Pembangunan Jembatan Rumpiang dimulai sejak akhir tahun 2003, menggunakan dana baik dari APBN maupun APBD Kabupaten Barito Kuala dan Pemprov Kalimantan Selatan sebesar Rp174,5 miliar.

MARTAPURA KOTA INTAN

Yang paling menonjol dari hasil alam Kalimantan adalah intan. Tepatnya di daerah Cempaka dan Pengaron, di sini setiap hari ditemukan intan oleh para pendulang. Yang paling menonjol adalah intan trisakti yang ditemukan oleh penduduk sekitar belasan tahun yang lalu. Dengan ditemukannya intan ini, menyebabkan sang pendulang menjadi kaya mendadak. Bahkan nama Trisakti diabadikan menjadi sebuah nama pelabuhan di Banjarmasin.
Yang baru-baru ini dan cukup terkenal adalah intan yang diberi nama Putri Malu. Beratnya 200 karat. Beberapa hari kemudian intan yang masih mentah itu dibeli oleh seorang pengusaha asal Cindai Alus yang bernama Lihan dengan harga 2 milyar. Besoknya intan itu langsung mendapat penawaran dari pengusaha kaya dari Jakarta dengan harga yang cukup pantastis, yaitu 8 milyar. Wooow….! Itu harga yang masih mentah, lho. Bayangkan, bagaimana harganya nanti apabila intan itu sudah digosok. Pasti harganya akan selangit.
Walaupun tambang intan Kalimantan Selatan menyimpan banyak kandungan intan yang besar, akan tetapi tidak setiap saat bisa ditemukan. Yang bisa diperoleh setiap harinya hanyalah intan-intan kecil yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, kadang-kadang dalam beberapa hari pendulang intan tidak dapat menemukan intan sama sekali. Akan tetapi hal ini tidak menyurutkan langkah mereka untuk bekerja mencari rezeki karena untuk menemukan intan yang diidam-idamkan sifatnya adalah untung-untungan. Baik bekerja keras atau seadanya saja, kalau sudah sampai rezekinya, maka hasillah apa yang mereka idam-idamkan. Begitulah resikonya jadi pendulang intan.
Kebanyakannya intan yang masih mentah atau sudah digosok diperjualbelikan di Kota Martapura. Ada dua macam cara orang berjualan intan di Marapura ini. Yang pertama, dijual di pusat pertokoan permata. Yang cukup terkenal adalah Pusat Pertokoan Cahaya Bumi Selamat (CBS). Di tempat ini dijual berbagai macam jenis permata dari yang harganya murah sampai yang harganya selangit. Selain permata, di pertokoan CBS juga dijual bermacam aksesories, kerajinan tangan, khas daerah sampai kepada ramuan obat dari Kalimantan seperti pasak bumi.
Cara yang kedua adalah yang dikenal di kota Martapura dengan sebutan PembalantikaN Intan. Sistem dagang seperti ini tidak memajang intan dagangan mereka di sebuah toko, tapi intan-intan itu disimpan di dompet atau kantong mereka. Para penjual ini biasanya bergerombol di suatu tempat sambil memamerkan intan-intan kepunyaan mereka kepada orang yang berminat. Mudah saja untuk menemukan para pedagang ini di Kota Martapura. Tanya saja setiap orang yang berjualan di pasar Martapura pasti mereka tahu tempatnya.
Oleh karena di kota ini banyak ditemukan intan dan merupakan tempat jual beli intan yang terkenal di Indonesia, maka Martapura pun mendapat julukan Kota Intan.
(tokopermata.wordpress)

Visi dan Misi Pembangunan Daerah

1. Visi Pembangunan

Konstelasi beragam masalah, potensi, kekuatan, aspirasi, dan tantangan baik yang berdimensi ekonomi, politik, sosial budaya, dan tata-kepemerintahan, maupun pertahanan dan keamaman, baik lokal, regional maupun global membentuk sebuah energi tarik-menarik yang menuntut visi dan misi pembangunan yang akurat, menantang, bisa tercapai, dan memberi inspirasi. Berdasarkan analisis kontelasi itulah dirumuskanlah visi pembangunan sebagai berikut:

“Terwujudnya Masyarakat Kalimantan Selatan yang Tertib, Sejuk, Nyaman, Unggul, dan Maju” (TERSENYUM)

Secara sosiologis, konsep tertib berdimensi sosial dan hukum, sehingga secara operasional, konsep masyarakat yang tertib adalah masyarakat yang penduduknya, individual, kolektif, dan kelembagaan, menyadari dan memenuhi hak dan kewajibannya sebagai warga masyarakat, secara sadar mematuhi peraturan dan norma, baik yang bersumber dari ajaran agama, etika dan norma sosial, maupun peraturan perundang-undangan atau hukum yang berlaku, sesuai dengan posisi dan peran sosialnya. Kondisi-kondisi ini terwujud apabila fungsi pemeliharaan pola dalam masyarakat efektif dijalankan.

Masyarakat yang sejuk dan nyaman merupakan resultanta dari efektifnya modal sosial dan kultural sebuah masyarakat, yang ditandainya oleh tingginya solidaritas sosial, sikap saling percaya (mutual trust), saling asah, asih, dan asuh, penuh toleransi, kerjasama, dan tolong menolong dalam suasana kedamaian dan ketentraman. Dengan kata lain, masyarakat yang sejuk dan nyaman adalah masyarakat yang warganya berkarakter dan berbudi pekerti.

Masyarakat yang unggul dan maju ditandai oleh kokohnya ketahanan pilar-pilar pembangunan dan daya saing yang tinggi baik dalam bidang ekonomi, pemerintahan, sosial budaya, kehidupan politik, maupun kualitas sumberdaya manusianya. Khusus yang menyangkut aspek sumberdaya manusia, masyarakat yang unggul dan maju terdiri atas sumberdaya manusia yang memiliki daya saing, daya sanding, daya juang, dan saring yang prima. Kondisi ini akan terwujud apabila fungsi pencapaian tujuan sistem sosial efektif menjalankan perannya.

2. Misi Pembangunan

Untuk mewujudkan visi tersebut dirumuskan misi-misi pembangunan sebagai berikut:

  1. Mewujudkan kehidupan masyarakat yang tertib, aman, dan demokratis.
  2. Meningkatkan pengembangan kualitas sumberdaya manusia dan mewujudkan Kalimantan Sehat 2010.
  3. Mewujudkan penyelenggaraan sistem dan tata-kepemerintahan lokal yang baik (local good governance).
  4. Mewujudkan peningkatan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan daerah.
  5. Meningkatkan pengelolaan sistem usaha yang kompetitif dan profesional.
  6. Meningkatkan kualitas pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup.
  7. Mewujudkan pengembangan norma religius dalam sistem sosial budaya kemasyarakatan.

3. Agenda Pembangunan Daerah

Berdasarkan visi dan misi pembangunan di atas dirumuskan agenda-agenda pembangunan sebagai berikut:

Agenda 1 : Mewujudkan Masyarakat Kalimantan Selatan yang Tertib
Agenda 2 : Mewujudkan Masyarakat Kalimantan Selatan yang Sejuk dan Nyaman
Agenda 3 : Mewujudkan Masyarakat Kalimantan Selatan yang Unggul dan Maju

3.1. Agenda Menciptakan Kalimantan Selatan yang tertib

Berkaitan dengan Agenda Menciptakan Kalimantan Selatan yang tertib, disusun sasaran pokok dengan prioritas dan arah kebijakan sebagai berikut:

Sasaran pertama adalah terwujudnya kehidupan masyarakat yang tertib, aman dan demokratis yang ditunjukkan dengan tingginya pemahaman terhadap hukum, nilai-nilai agama dan etika, yang tercermin pada tingkah laku kehidupan sehari-hari. Untuk mencapai sasaran tersebut, prioritas pembangunan daerah tahun 2006–2010 diletakkan pada:

a. Hukum dan Pemerintahan dengan kebijakan yang diarahkan untuk:

  1. Pembentukan peraturan daerah yang diperlukan masyarakat
  2. Pembinaan peradilan
  3. Penerapan dan penegakan hukum
  4. Peningkatan kualitas pelayanan publik

b. Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup dengan kebijakan yang diarahkan untuk:

  1. Pengawasan dan penegakan hukum di bidang lingkungan hidup
  2. Peningkatan usaha penertiban terhadap kegiatan penambangan tanpa ijin (peti), penebangan illegall (bangli) dan penangkapan ikan illegal.

Sasaran kedua adalah terwujudnya penyelenggaraan sistem pemerintahan yang baik yang ditunjukkan dengan sistem organisasi pemerintahan yang efisien, perilaku organisasi yang profesional dalam memberikan pelayanan ke masyarakat. Untuk mencapai sasaran tersebut, prioritas pembangunan daerah tahun 2006–2010 diletakkan pada:

Hukum dan Pemerintahan dengan kebijakan yang diarahkan untuk:

  1. Mempersiapkan dan merealisasikan proses pemindahan Ibukota Propinsi Kalimantan Selatan dari Kota Banjarmasin ke Kota Banjarbaru
  2. Peningkatan kemampuan aparatur pemerintah
  3. Optimalisasi sistem pengawasan
  4. Peningkatan efektifitas komunikasi pemerintah dalam penyelesaian masalah kebijakan
  5. Peningkatan kualitas manajemen pembangunan daerah

3.2. Agenda Menciptakan Kalimantan Selatan yang sejuk dan nyaman

Berkaitan dengan Agenda Menciptakan Kalimantan Selatan yang sejuk dan nyaman, disusun sasaran pokok dengan prioritas dan arah kebijakan sebagai berikut :

Sasaran pertama adalah terwujudnya pengembangan norma religius sesuai budaya kemasyarakatan yang ditunjukkan semakin meningkatnya dan semaraknya kehidupan sosial kemasyarakatan yang diwarnai nilai-nilai agama, dan makin semaraknya kehidupan beragama., serta meningkatnya kesejahteraan masyarakat khusunya masyarakat miskin. Untuk mencapai sasaran tersebut, prioritas pembangunan daerah tahun 2006–2010 diletakkan pada:

Agama, Sosial dan Seni Budaya dengan kebijakan yang diarahkan untuk:

  1. Mendukung dan menciptakan suasana kehidupan masyarakat yang agamis
  2. Mendorong pemerintah kabupaten dan kota memberikan insentif yang layak pada guru agama, fasilitasi pelayanan kesehatan para alim ulama, dan fasilitas lainnya.
  3. Keharusan bagi wanita muslim karyawati instansi pemerintah untuk memakai jilbab, serta penyediaan sarana peribadatan di tempat kerja.
  4. Kewajiban khatam Al-Qur’an bagi peserta didik SD, SLTP dan SLTA yang akan diatur dengan Peraturan Daerah.
  5. Menerbitkan Peraturan Daerah tentang waktu berjualan, larangan untuk makan, minum dan merokok di siang hari pada Bulan Ramadhan.
  6. Pembinaan dan pengembangan pendidikan keagamaan serta sarana peribadatan masyarakat.
  7. Peningkatan ketahanan sosial dan pemberdayaan terhadap penyandang masalah sosial.
  8. Pembinaan partisipasi masyarakat untuk peningkatan kesejahteraan sosial.
  9. Peningkatan pelayanan kesejahteraan sosial.
  10. Pengembangan potensi pemuda dan olahraga.
  11. Pencegahan generasi muda terhadap penyalahgunaan narkoba.
  12. Pengembangan kawasan dan sistem informasi cagar budaya daerah.
  13. Pengembangan Pariwisata dan pelestarian seni budaya.
  14. Peningkatan perlindungan anak dan perempuan
  15. Peningkatan Pemberdayaan Perempuan
  16. Pengelolaan Kemiskinan

Sasaran kedua adalah terwujudnya peningkatan kualitas pengelolan sumberdaya alam dan lingkungan hidup, yang ditunjukkan dengan terkelolanya Sumber Daya Alam dalam rangka untuk pelaksanaan pembangunan berkelanjutan yang didasarkan pada RTRW yang digunakan bagi kesejahteraan masyarakat, semakin berkurannya gangguan terhadap lingkungan. Untuk mencapai sasaran tersebut, prioritas pembangunan daerah tahun 2006–2010 diletakkan pada:

Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup dengan kebijakan yang diarahkan untuk:

  1. Pengembangan sistem informasi sumberdaya alam dan lingkungan
  2. Peningkatan peran serta masyarakat dalam pemeliharaan lingkungan
  3. Pengendalian pengelolaan sumber daya alam dan daya dukungnya dalam rangka mencegah kerusakan lingkungan

3.3. Agenda Menciptakan Kalimantan Selatan yang unggul dan maju

Berkaitan dengan Agenda Menciptakan Kalimantan Selatan yang unggul dan maju, disusun sasaran pokok dengan prioritas dan arah kebijakan sebagai berikut.

Sasaran pertama adalah Terwujudnya kualitas SDM dan Kalimantan Selatan sehat, yang ditunjukkan dengan tingkat pendidikan dan keterampilan meningkat, penguasaan ilmu dan teknologi meningkat, serta meningkatnya angka IPM. Untuk mencapai sasaran tersebut, prioritas pembangunan daerah tahun 2006–2010 diletakkan pada:

a. Bidang Pendidikan dengan kebijakan yang diarahkan untuk:

  1. Penuntasan wajib belajar 9 tahun
  2. Peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan
  3. Peningkatan kualitas pengelolan jalur sekolah dan luar sekolah
  4. Peningkatan profesionalisme, kompetensi, dan kesejahteraan tenaga pendidik
  5. Menciptakan sistem pendidikan yang sehat dan berbasis kompetensi
  6. Rehabilitas, revitalisasi, serta pengembangan sarana dan prasarana pendidikan
  7. Pengembangan perpustakaan

b. Bidang Kesehatan dengan kebijakan yang diarahkan untuk:

  1. Peningkatan status gizi masyarakat dan mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat.
  2. Peningkatan peran serta masyarakat dan swasta dalam pembangunan bidang kesehatan
  3. Peningkatan manajemen dan sistem informasi kesehatan
  4. Peningkatan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat besarta lingkungannya
  5. Peningkatan dan pengawasan pelayanan kesehatan dan rujukan kepada pasien sesuai standar pelayanan medis yang bermutu, merata dan terjangkau.
  6. Peningkatan fasilitas penunjang dan sistem penyelenggaraan pendidikan kesehatan
  7. Peningkatan profesionalisme dan kompetensi aparatur, tenaga medis dan tenaga pengajar pendidikan kesehatan
  8. Pembangunan dan peningkatan prasarana fisik bidang kesehatan

Sasaran kedua adalah Terwujudnya peningkatan pertumbuhan ekonomi dan Pembangunan daerah yang merata yang ditunjukkan dengan Tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata 6 % per tahun, Berkurangnya angka pengangguran, Meningkatnya daya saing produk unggulan Kalimantan Selatan, Daerah berkembang secara merata berdasarkan pada unggulan masing-masing, Pengelolaan sistem usaha yang kompetitif dan profesional yang ditunjukkan dengan berkembangnya usaha-usaha ekonomi yang kecil, menengah dan besar dalam pengembangan komoditas unggulan yang dikelola secara profesional serta Mulai berlakunya kegiatan perdagangan skala regional. Untuk mencapai sasaran tersebut, prioritas pembangunan daerah tahun 2006–2010 diletakkan pada:

a. Bidang Ekonomi dengan kebijakan yang diarahkan untuk:

  1. Pengembangan sistem ketahanan pangan
  2. Pengembangan sektor unggulan potensi daerah
  3. Mekanisasi usaha pertanian
  4. Pengembangan agribisnis
  5. Pemberian fasilitas subsidi bunga kredit bagi pengusaha kecil dan menengah
  6. Pengembangan produk unggulan berorientasi ekspor
  7. Peningkatan dan pemerataan pembangunan infrastruktur terutama daerah terisolir dan kawasan sentra produksi
  8. Mendorong pengembangan usaha investasi
  9. Pemberdayaan kelembagaan ekonomi masyarakat
  10. Peningkatan keterampilan dan kewirausahaan masyarakat
  11. Pengembangan kawasan ekonomi berupa kawasan industri, budidaya perikanan laut dan pengembangan usaha perkebunan dan kehutanan
  12. Pengembangan potensi wisata daerah
  13. Peningkatan sistem informasi penanaman modal
  14. Perluasan lapangan kerja
  15. Peningkatan kualitas dan perlindungan tenaga kerja

b. Bidang Prasarana Wilayah dengan kebijakan yang diarahkan untuk:

  1. Konservasi dan pendayagunaan sumberdaya air
  2. Pengendalian daya rusak air
  3. Pembangunan dan peningkatan serta rehabilitasi jalan dan jembatan
  4. Pembangunan dan peningkatan sarana dan prasarana umum
  5. Peningkatan sarana dan prasarana permukiman
  6. Pembangunan perkotaan.

(http://www.kalselprov.go.id/pemerintahan/visi-dan-misi-pembangunan-daerah)

Uniknya Pasar Terapung Banjarmasin

Jika berunjung ke kota Banjarmasin, kota yang dikenal sebagai kota seribu sungai ini jangan sampai terlewatkan ke pasar terapung, pasar yang telah telah mendunia. Pasar terapung ini berada di kota Banjarmasin,Kalimantan Selatan tepatnya di muara sungai martapura – barito. Kenapa disebut terapung? ….. mungkin udah pada tahu semualah, para pedagang di pasar ini menawarkan barang dagangannya menggunakan jukung (sebutan perahu khas banjar) , dan begitu pula bagi yang mau beli juga harus menggunakan jukung untuk membeli. Unik khan?….

Dan yang lebih unik lagi, pasar ini aktivitasnya dimulai dari pukul 3.30 WITA sampai matahari udah mulai muncul sekitar 6.30 WITA.  DI pasar ini kita bisa membeli barang2 layaknya di pasar kebanyakan seperti sayuran, buahan, wadai (makanan2 kecil dlm bahasa banjar),sarapan pagi, dan mungkin juga beli lauk pauk (tapi kemaren gw gak ngeliat). Dan tenang, ketika di pasar terapung tersebut kita akan didatangi oleh penjual2nya alias didekati oleh jukung2 tersebut sambil menawari barang dagangannya..dan tentunya juga ada kebanyakan dengan bahasa banjar dan dialek banjar yg juga khas…..

Untuk mencapai pasar ini tidak begitu susah kok karena pasarnya berada di kota. Dari kota kita hanya cukup pergi ke daerah Kuin, tepatnya ke dermaga2 kecil jukung, parkir2 untuk mobil sudah tersedia juga. Menuju kuin bisa dengan Taxi ato mobil pribadi. Dan dari dermaga jukung2 tersebut bisa pesan/carter jukung ke pasarnya sekitar 60000/jukung. Kemudian kita akan diajak menelusuri sungai martapura menuju ke hulu yang bermuara di sungai Barito. dan sepanjang sungai martapura kita juga bakal dapat melihat aktivitas2 yang unik juga seperti mandi( ada pertunjukan yang mengarah ke setengah bugil disini…wekekekeke.., cuci, buang sampah(weiksss).

O iya, untuk lebih merasakan keunikan pasarnya lagi, kita juga bisa menikmati sarapan pagi terapung. Yup, disana juga tersedia warung Soto Banjar terapung, kita cukup mendekati warung terapung tersebut, yup tetap diatas jukung yang agak gedean tentunya. Dan setelah dekat kita cukup naik ke jukung warung tersebut dan pesan dach. Dan jukung kita bakal parkir disebelahnya…..hmmm yummy sekali….

Sejarah Provinsi Kalimantan Selatan

Sejarah Pemerintahan di Kalimantan Selatan diperkirakan dimulai ketika berdiri Kerajaan Tanjung Puri sekitar abad 5-6 Masehi. Kerajaan ini letaknya cukup strategis yaitu di Kaki Pegunungan Meratus dan di tepi sungai besar sehingga di kemudian hari menjadi bandar yang cukup maju. Kerajaan Tanjung Puri bisa juga disebut Kerajaan Kahuripan, yang cukup dikenal sebagai wadah pertama hibridasi, yaitu percampuran antarsuku dengan segala komponennya. Setelah itu berdiri kerajaan Negara Dipa yang dibangun perantau dari Jawa.

Pada abad ke 14 muncul Kerajaan Negara Daha yang memiliki unsur-unsur Kebudayaan Jawa akibat pendangkalan sungai di wilayah Negara Dipa. Sebuah serangan dari Jawa menghancurkan Kerajaan Dipa ini. Untuk menyelamatkan, dinasti baru pimpinan Maharaja Sari Kaburangan segera naik tahta dan memindahkan pusat pemerintahan ke arah hilir, yaitu ke arah laut di Muhara Rampiau. Negara Dipa terhindar dari kehancuran total, bahkan dapat menata diri menjadi besar dengan nama Negara Daha dengan raja sebagai pemimpin utama. Negara Daha pada akhirnya mengalami kemunduran dengan munculnya perebutan kekuasaan yang berlangsung sejak Pangeran Samudra mengangkat senjata dari arah muara, selain juga mendirikan rumah bagi para patih yang berada di muara tersebut.

Pemimpin utama para patih bernama MASIH. Sementara tempat tinggal para MASIH dinamakan BANDARMASIH. Raden Samudra mendirikan istana di tepi sungai Kuwin untuk para patih MASIH tersebut. Kota ini kelak dinamakan BANJARMASIN, yaitu yang berasal dari kata BANDARMASIH.

Kerajaan Banjarmasin berkembang menjadi kerajaan maritim utama sampai akhir abad 18. Sejarah berubah ketika Belanda menghancurkan keraton Banjar tahun 1612 oleh para raja Banjarmasin saat itu panembahan Marhum, pusat kerajaan dipindah ke Kayu Tangi, yang sekarang dikenal dengan kota Martapura.

Awal abad 19, Inggris mulai melirik Kalimantan setelah mengusir Belanda tahun 1809. Dua tahun kemudian menempatkan residen untuk Banjarmasin yaitu Alexander Hare. Namun kekuasaanya tidak lama, karena Belanda kembali.

Babak baru sejarah Kalimantan Selatan dimulai dengan bangkitnya rakyat melawan Belanda. Pangeran Antasari tampil sebagai pemimpin rakyat yang gagah berani. Ia wafat pada 11 Oktober 1862, kemudian anak cucunya membentuk PEGUSTIAN sebagai lanjutan Kerajaan Banjarmasin, yang akhirnya dihapuskan tentara Belanda Melayu Marsose, sedangkan Sultan Muhammad Seman yang menjadi pemimpinnya gugur dalam pertempuran. Sejak itu Kalimantan Selatan dikuasai sepenuhnya oleh Belanda.

Daerah ini dibagi menjadi sejumlah afdeling, yaitu Banjarmasin, Amuntai dan Martapura. Selanjutnya berdasarkan pembagian organik dari Indisch Staatsblad tahun 1913, Kalimantan Selatan dibagi menjadi dua afdeling, yaitu Banjarmasin dan Hulu Sungai. Tahun 1938 juga dibentuk Gouverment Borneo dengan ibukota Banjarmasin dan Gubernur Pertama dr. Haga.

Setelah Indonesia merdeka, Kalimantan dijadikan propinsi tersendiri dengan Gubernur Ir. Pangeran Muhammad Noor. Sejarah pemerintahan di Kalimanatn Selatan juga diwarnai dengan terbentuknya organisasi Angkatan Laut Republik Indonesia ( ALRI ) Divisi IV di Mojokerto, Jawa Timur yang mempersatukan kekuatan dan pejuang asal Kalimantan yang berada di Jawa.

Dengan ditandatanganinya Perjanjian Linggarjati menyebabkan Kalimantan terpisah dari Republik Indonesia. Dalam keadaan ini pemimpin ALRI IV mengambil langkah untuk kedaulatan Kalimantan sebagai bagian wilayah Indonesia, melalui suatu proklamasi yang ditandatangani oleh Gubernur ALRI Hasan Basry di Kandangan 17 Mei 1949 yang isinya menyatakan bahwa rakyat Indonesia di Kalimantan Selatan memaklumkan berdirinya pemerintahan Gubernur tentara ALRI yang melingkupi seluruh wilayah Kalimantan Selatan. Wilayah itu dinyatakan sebagai bagian dari wilayah RI sesuai Proklamasi kemerdekaaan 17 agustus 1945. Upaya yang dilakukan dianggap sebagai upaya tandingan atas dibentuknya Dewan Banjar oleh Belanda.

Menyusul kembalinya Indonesia ke bentuk negara kesatuan kehidupan pemerintahan di daerah juga mengalamai penataaan. Di wilayah Kalimantan, penataan antara lain berupa pemecahan daerah Kalimantan menjadi 3 propinsi masing-masing Kalimantan Barat, Timur dan Selatan yang dituangkan dalam UU No.25 Tahun 1956.

Berdasarkan UU No.21 Tahun 1957, sebagian besar daerah sebelah barat dan utara wilayah Kalimantan Selatan dijadikan Propinsi Kalimantan Tengah. Sedangkan UU No.27 Tahun 1959 memisahkan bagian utara dari daerah Kabupaten Kotabaru dan memasukkan wilayah itu ke dalam kekuasaan Propinsi Kalimantan Timur. Sejak saat itu Propinsi Kalimantan Selatan tidak lagi mengalami perubahan wilayah, dan tetap seperti adanya. Adapun UU No.25 Tahun 1956 yang merupakan dasar pembentukan Propinsi Kalimantan Selatan kemudian diperbaharui dengan UU No.10 Tahun 1957 dan UU No.27 Tahun 1959.

Profil Objek Wisata Kalimantan Selatan

A. Kota Banjarmasin

Propinsi Kalimantan Selatan Ibukotanya Kota Banjarmasin dan wilayah ini banyak dilalui sungai besar dan sungai kecil (kanal). Banyak sekali kegiatan masyarakat yang dilakukan di sungai termasuk kegiatan perdagangan yang dikenal dengan pasar terapung. Penduduk kota Banjarmasin masih banyak yang tinggal di atas air. Rumah-rumah penduduk dibangun diatas tiang atau diatas rakit dipinggir sungai.

Budaya sungai terus berkembang, memberikan corak budaya tersendiri dan menarik. Salah satu kegiatan wisata paling menarik di kota Banjarmasin adalah berjalan-jalan menyusuri sungai dan kanal. Daerah pinggiran kota pemandangan alam sungainya masih asli dan wisatawan dapat menyusuri sepanjang sungai Martapura dan sungai Barito dengan menggunakan perahu Klotok dan Speedboat. Pusat Kota Banjarmasin terletak di sepanjang jalan Pasar Baru, sementara kawasan perkantoran khususnya Bank terdapat di jalan Lambung Mangkurat. Sungai Barito berada di sebelah Baratnya dari pusat kota.

Sebagian besar kegiatan masyarakat di Banjarmasin terjadi sungai atau disekitar sungai. Oleh karena itu sangatlah menarik menyaksikan kehidupan Kota dari tengah sungai. Wisatawan dapat menyewakan perahu motor yang mangkal di tepi sungai dengan tarif sekitar Rp. 75.000 per jam guna memulai perjalanan menyusuri sungai melewati sejumlah lokasi penarikan dengan waktu tempuh dua hingga tiga jam.

Perjalanan di mulai dengan melewati Mesjid Raya Sabilal Muhtadin menuju kepasar kuin dimana air sungai Kuin mengalir menuju sungai Barito. Wisatawan dapat juga singgah di Pulau Kembang dan kemudian melanjutkan perjalanan melalui penggergajian kayu di sungai Alalak dan kembali ke Pusat Kota melalui Sungai Andai.

Pasar Terapung adalah pasar tradisional yang sudah ada sejak dulu dan merupakan refleksi budaya sungai orang Banjar. Pasar yang khas lagi unik ini tempat melakukan transaksi di atas air dengan menggunakan perahu besar maupun kecil yang berdatangan dari berbagai pelosok. Pasar Terapung hanya berlangsung pada pagi hari sekitar jam 05.00 hingga 09.00 setiap hari. Dan dengan perahu Klotok dari Kota Banjarmasin dapat dicapai sekitar 30 menit.

Wisatawan harus datang pagi-pagi untuk dapat melihat kesibukan Pasar Terapung ini. Salah satu Pasar Terapung di Banjarmasin adalah Pasar Kuin yang terletak di persimpangan antara Sungai Kuin dan Sungai Barito.

Sejak dahulu Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan terkenal dengan hasil kayu dan rotan. Pada masa lalu kayu yang ditebang langsung dikirim keluar Kalimantan, tetapi saat ini sebelum dikirim keluar daerah terlebih dahulu diolah menjadi bahan setengah jadi, demikian juga untuk industri rotan.

Sasirangan adalah batik khas Kalimantan Selatan yang pada jaman dahulu digunakan untuk mengusir roh jahat dan hanya dipakai oleh kalangan orang-orang terdahulu seperti keturunan raja dan bangsawan. Proses pembuatan masih dikerjakan secara tradisional. Lokasi penjualannya di kecamatan Banjar Timur, 20 menit dari pusat Kota Banjarmasin.

Salah satu Landmark Kota Banjarmaisn adalah Masjid Raya Sabilal Muhtadin yang berada dijalan Jendral Sudirman. Mesjid Raya Sabilal Muhtadin berdiri megah dijantung kota Banjarmasin menghadap Sungai Martapura. Bangunan Masjid arsitektur modern dengan di kelilingi lima menara yang menjulang tinggi serta taman masjid yang luas dan indah. Masjid Raya Sabilal Muhtadin berlantai dua mempunyai kapasitas tempat sholat untuk 15.000 jemaah dan merupakan masjid kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan dan pusat pengkajian agama Islam.

B. Kota Banjarbaru

Kota yang terletak di sebelah Tenggara Kota banjarmasin ini memiliki sebuah Museum yang berisi benda-benda peninggalanSuku Banjar dan Dayak. Patung-patung yang berasal dari Candi Hindu yang ada di Kalimantan juga terdapat di Museum Lambung Mangkurat ini. Juga terdapat meriam, pedang dan benda-benda lain sisa-sisa perang melawan Belanda. Koleksi Museum Lambung Mangkurat lainnya adalah peralatan Sunat Tradisional Banjar seperti Pisau dan Daun yang digunakan sebagai Antibiotic.

Museum Lambung Mangkurat terletak di Kota Banjarbaru sekitar 35 km dari Kota Banjarmasin, menyimpan berbagai peninggalan sejarah dan budaya serta gambaran dari pada wajah Kalimantan Selatan dalam berbagai aspek kehidupan alam dan potensial alamnya.

Koleksi paling menarik dari Museum Lambung Mangkurat ini adalah benda-benda hasil penggalian dari Candi-Candi Hindu seperti Candi Laras di Rantau dan Candi Agung di Amuntai. Di Kalimantan Timur antara lain Patung Sapi Nandi dan Symbol Alat Kelamin Dewa Syiwa yang disebut Lingang. Sisa-sisa Candi Laras terdapat di Desa Margasari, di dekat Kota Rantau, sedangkan sisa-sisa Candi Agung terdapat di Kota Amuntai yang berjarak 150 km dari Banjarmasin.

Barang koleksi Museum terdiri dari peninggalan Sultan Banjar, benda purbakala dari Candi Agung dan Candi Laras, Perkakas dari Batu, Ukiran Kayu Ulin, Perkakas Pertanian dan Perabot Rumah Tangga, Alat Musik Tradisional dan sebagainya.

Bangunan Museum ini perpaduan bentuk rumah tradisional yang bergaya modern diresmikan pada tahun 1979.

Pendulangan

Kawasan Pendulangan Intan Tradisional berada di Kecamatan Cempaka. Bagi penduduk Desa Cempaka, mendulang intan merupakan mata pencaharian turun temurun. Para pendulang biasanya berkelompok-kelompok mengali lobang pada kedalam sekitar 10-12 meter dengan menggunakan perkakas tradisional dan metode lama. Mereka bekerja keras mengadu nasib. Bahan galian tersebut selanjutnya dicuci untuk mencari sebutir Intan, terkadang pendulang menemukan pula Batu Akik dan Pasir Emas.

Cempaka adalah kawasan penambangan intan dan emas yang terletak 47 km dari Kota Banjarmasin dan 7 km dari Kota Banjarbaru. Di tempat ini pengunjung dapat melihat langsung bagaimana para pekerja mencari Intan atau Emas di lobang-lobang penuh galian dan penuh lumpur. Dari catatan sejarah di tambang ini pernah ditemukan intan terbesar seberat 20 karat pada tahun 1846, rekor ini kemudian dipecahkan pada tahun 1850 dengan ditemukannya intan yang lebih besar lagi seberat 167,5 karat.

C. Kabupaten Banjar

Daya tarik Kota yang terletak di dekat Kota Banjarbaru ini adalah suasana pasar tradisional yang hanya digelar setiap hari Jumat. Pasar ini ramai dikunjungi para wanita Banjar dengan pakaian tradisional mereka yang berwarna-warni. Di lokasi pasar ini terdapat sebuah bangunan pasar berbentuk tradisional Banjar dengan atapnya yang berwarna biru.

Di pasar yang luas ini, wanita Banjar menjual aneka barang termasuk berbagai jenis makanan. Jika anda penggemar batu permata, pasar ini adalah tempatnya. Pedagang batu permata menyediakan berbagai macam bentuk batu seperti intan dan batu permata lainnya, baik yang sudah di asah ataupun yang masih kasar. Berbagai bentuk manik-manik juga tersedia dan juga perhiasan perak. Anda juga dapat mengunjungi penggosokan intan Kayu Tangi di Jalan Sukaramai, yang berada di belakang pasar ini.

Di jantung Kota Martapura banyak ditemukan rumah-rumah tempat penggosokan intan baik secara tradisional maupun modern yang terkenal adalah penggosokan Intan Tradisional Kayu Tangi Martapura. Di sini intan dan batu-batuan di bawa dan di gosok secara tradisional dengan berbagai macam bentuk.

Selain terdapat penggosokan Batu Aji, tidak kalah menariknya adalah kerajinan Manik-manik atau hiasan Arguci yang dikerjakan secara unik dan berkelompok-kelompok oleh para pengrajin di Desa Melayu, Kecamatan Martapura. Pemasarannya sampai ke Negara Malaysia dan Brunai Darussalam.

Danau Riam Kanan merupakan bagian dari Taman Hutan Raya Sultan Adam yang berlokasi di Desa Aranio, Kecamatan Aranio. Berjarak sekitar 65 km dari Kota Banjarmasin. Pegunungan Meratus yang indah dan hijau mengelilingi Danau Riam Kanan yang luasnya 8000 hektar. Pulau Pinus yang terletak di tengah danau merupakan tempat-tempat ideal untuk berekreasi keluarga sambil menikmati kedamaian alam. Air danau yang jernih dan tenang sangatlah ideal pula untuk bertamasya air, berenang, maupun memancing.

Tidak jauh dari Kota Martapura terdapat obyek wisata budaya yaitu Desa Kelampayan Kecamatan Astambul, sebuah Makam Ulama besar yaitu Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, penyebar agama Islam di Kalimantan, makam ini banyak dikunjungi peziarah yang datang dari Malaysia dan Brunai Darussalam.

Pasar Terapung Lok Baintan berada di Sungai Martapura. Kegiatannya hampir sama dengan Pasar Terapung yang ada di tepi Sungai Barito dan yang membedakannya hanya para pedagang menggunakan topi yang disebut Tanggui.

Taman Hutan Pinus letaknya sekitar sekitar 35 km dari Kota Banjarmasin. Rekreasi di bawah Hutan Pinus yang rindang, sehingga sangat baik duduk di bawah pohon sambil menikmati hidangan yang telah disiapkan. Taman Hutan Pinus merupakan penghijauan kota dan kebun pembinaan. Taman Hutan Raya Sultan Adam terletak di Desa Mandiangin Kecamatan Karang Intan, sekitar 55 km dari Kota Banjarmasin yang mempunyai luas 106.400 ha. Selain itu terdapat dua peninggalan jaman Belanda yang terletak 2 km dari Tahura. Di sana ada Gajah Kampung, Rusa dan Buaya yang dilindungi. Pengunjung datang setiap hari libur untuk menikmati alam yang indah dan sejuk, juga sebagai tempat penelitian dan perkemahan bagi pelajar dan mahasiswa.

D. Kabupaten Tapin

1. Goa Batu Hapu


Goa Batu Hapu yang terletak di Desa Batu Hapu Kecamatan Hatungun merupakan goa yang mempunyai panorama luar biasa yang mempunyai stalagnit dan stalagmit menghiasi dalam goa yang dapat menggugah kebesaran Allah SWT dalam ciptaanNya sebagai pelajaran pengetahuan alam, goa ini telah mendapatkan sentuhan perbaikan dan penataan, Pemerintah Daerah sehubungan kerusakan yang diakibatkan keserakahan oknum manusia yang hanya mengejar keuntungan ekonomi sesaat tanpamensyukuri nikmat lainnya yang disediakan oleh alam. Goa Batu Hapu letaknya dari pasar Binuang masuk sejauh 16 km dengan jalan yang sudah cukup baik, ditempuh dengan jalan santai sambil menikmati pemandangan kehidupan pedesaan dan nuansa alam pegunungan selama 30 menit, goa ini terletak dipegunungan sehingga yang mempunyai hobi tantangan panjat tebing disinilah nyalinya diuji, tetapi resiko ditanggung sendiri karena belum di asuransikan, masyarakat disekitar goa siap bermitra dengan waisatawan yang berkeinginan bermalam sambil menikmati makanan dan kehidupan masyarakat pedesaan. Event hiburan diadakan pada saat liburan dan hari-hari besar yaitu pada hari Raya Idul Fitri ke 2, Tahun Baru dan Liburan sekolah.

2. Makam Datu-datu atau Ulama Makam Datu Sanggul


Makam Datu atau Ulama telah di renovasi dan mendapatkan penambahan fasilitas sebagai upaya memfasilitasi peziarah yang merupakan salah satu budaya masyarakat yang bernuansa keagamaan, yang merupakan kekuatan pengembangan obyek wisata kabupaten Tapin sebagai wisata relegius. Pengembangan wisata ini sebagai upaya mengenal dan mengenang kembali sejarah, karena sebagai bangsa yang ingin maju tidak boleh melupakan sejarah perjuangan pendahulu kita, khususnya para Datu atau Ulama yang telah berjuang menyebarkan pengetahuan keagamaan dan kehidupan. Makam sebagai tujuan wisata ziarah antara lain makam Datu Nuraya yang merupakan makam panjang bahkan mungkin makam terpanjang di dunia (± 60 meter) dan haulannya (peringatan tahunan) adalah pada tanggal 14 Dzulhijjah. Makam ini terletak di Kecamatan Tapin Selatan. Selanjutnya adalah ziarah ke makam Datu Sanggul terletak di Desa Tatakan Kabupaten Tapin, haulannya setiap tanggal 21 Dzulhijjah, dari lokasi yang berdekatan perjalanan ziarah dilanjutkan ke makam Datu Suban yang dikenal sebagai guru Datu Sanggul haulannya setiap bulan Syawal setiap tahun, kemudian perjalanan diteruskan ke makam Syech Salman Alfarizi yang dikenal sebagai tokoh pendidikan juga ahli dalam bidang pertanian dari desa Gadung Kecamatan Bakarangan (± dari makam Datu Suban jaraknya 14 km) event haulannya setiap tanggal 9 Dzulhijjah.

E. Kabupaten Hulu Sungai Selatan

Kandangan merupakan kota transit bagi kendaraan Kota Banjarmasin yang akan menuju ke Kota Nagara atau sebaliknya. Kota kecil ini memiliki terminal yang cukup sibuk dan sebuah bangunan pasar tua dengan bentuk arsitektur yang mengesankan peninggalan era kolonial. Jika anda singgah di kota ini, cobalah makanan khas Kabupaten Kandangan yang lezat yaitu Ketupat yang dimakan dengan Gulai Ikan Haruan.

Nagara merupakan kota kecil yang ditempati Sungai Nagara (cabang Sungai Barito) dan sering meluap. Karena itu, rumah penduduk di tenpat ini umumnya adalah rumah yang dibangun di atas tiang-tiang tinggi. Pada saat musim hujan, hampir seluruh bagian kota tertutupair kecuali jalan yang sengaja dibuat tinggi, namun pada puncak musim hujan, permukaan jalan juga tertutup air sehingga Nagara berubah menjadi semacam “Kota Air”.

Menurut catatan sejarah, Nagara yang terletak tidak jauh dari kota Kandangan, merupakan ibukota dari kerajaan pertama di Kalimantan Selatan bernama Nagara Dipa sebelum dipindahkan oleh Pangeran Samudera ke Bandarmasih yang kemudian berkembang menjadi Kota Banjarmasin saat ini. Nagara juga menjadi pusat kerajinan senjata tajam seperti pedang, golok dan keris. Para pengrajin ditempat ini mampu menghasilkan berbagai jenis senjata tajam seperti Mandau dengan bentuk yang indah dilengkapi dengan sarungnya.

Mandau adalah pedang tradisional suku Dayak yang dibuat di Desa Hadirau dan Tumbukan Banyu. Pembuatannya memnggunakan peralatan sederhana dan diselesaikan sekelompok pengrajin dan Mandau hanya di buat untuk hiasan. Tapi adapula Mandau yang khas dibuat sendiri oleh ahlinya dan pedang ini dipercayai memiliki kekuatan magis yang diisi melalui upacara ritual.

Pembuatan gerabah terletak di Desa Bayanan tidak jauh dari Pasar Nagara, pengunjung bisa menyaksikan setiap tahapan pembuatan dengan peralatan sederhana atau bahkan pengunjung bisa memcoba ikut untuk pembuatannya. Pengrajin biasanya membuat bermacam-macam bentuk Tembikar dan yang terkenal adalah Dapur Nagara atau Anglo.

Gunung Kentawan

lebih dikenal sebagai lambang sari kawasan Loksado karena letaknya strategis dan dapat dilihat dari berbagai penjuru. Gunung ini adalah kawasan hutaqn lindung berupa gunung batu yang ditumbuhi pepohonan disekelilingnya, letak kawasan ini sekitar 28 Km dari kota Kandangan, dan untuk mencapainyahanya jalan kaki lewat Desa Lumpangi, muara Hanip atau Datar Belimbing (Hulu Banyu). Dengan memiliki luas sekitar 245 ha, didalamnya terdapat aneka jenis flora termasuk anggrek Hutan dan fauna yang dilindungi seperti Bekantan, Owa-Owa, Raja Udang (Halcyon SP)dll.

Air Panas Tanuhi merupakan obyek wisata yang sangat indah dan menarik untuk dikunjungi, disamping pemandangan yang indah juga tersedia beberapa fasilitas seperti : Cottag Type A dan B, Gazebo, Aula untuk pertemuaan, Kolam Renang, Kolam Berendam, Kolam Air Panas dari Panas Alam, Cafetaria, Lapangan Tenis dan Tempat Bermain Anak. Akses jalan menuju tempat lokasi sangat mudah dari Ibukota Propinsi Banjarmasin 168 km bisa ditempuh dengan roda 4 selama 4 jam.

Balai Adat Malaris adalah yang paling besar diantara bali yang lain dikawasan Loksado, berbeda dengan balia adat lainnya, balai ini masih dihuni dimana ada 40 keluarga besar. Berjarak 2,5 km dari Loksado. Tidak jauh dari Balai Malaris terdapat sebuah bendungan pembangkit tenaga listrik dan sebuah riam untuk bemandi ria, yaitu Riam Berajang dan Riam Anai.

Kawasan Loksado

memiliki hutan primer banyak ditumbuhi pepohonan dan kayu-kayuan yang beraneka ragam. Jenis pohon yang tumbuh diwilayah ini adalah seperti: Meranti, Sungkai, Ulin, Karet, Kayu Manis, dan jenis pohon buah-buahan serta aneka jenis bunga Anggrek. Didalam hutan juga hidup berbagai satwa, seperti: Kijang, Kancil, Macam, Beruang, aneka jenis kera termasuk Bekantan, Satwa Melata dan jenis burung, seperti: Raja Udang, Enggang, Ayam, Hutan dll. Begitu pula dengan Kupu-Kupu dengan aneka warna yang menawan.

Arung Jeram dengan rakit bambu di sungai Amandit adalah puncak dari kegiatan perjalanan setelah beberapa hari. Kegiatan inilah yang paling banyak disukai oleh banyak wisatawan dan yang palinng mengesankan. Ada beberapa lokasi yang bagus untuk memulai perjalanan dengan tingkat kesulitan dan waktu tempuh yang bervariasi tergantung dari keinginan wisatawan itu sendiri.

Air terjun Haratai

terletak di desa lebih kurang 15 menit perjalanan dari Balai Haratai, dapat ditempuh dengan memasuki hutan bambu dan perkebuna karet atau kayu manis. Air terjun tersebut bertingkat tiga dengan ketinggian masing-masing 13 meter. Pengunjung dapat bermandi ria pada telaga, tetapi dibagian bawah air terjunnya, atau hanya duduk-dudk diatas bebatuan besar. Tersedia juga tempat ganti pakaian dan shel teruntuk beristirahat.

Air Terjun Riam Anai ± 2 km dari desa Malaris Kecamatan Loksado merupakan air terjun yang sangat deras dengan ketinggian 4 meter.

Air Terjun Kilat Api terletak di deas Tanuhi 4 km dari penginapan/cottage Tanuhi. Bisa ditempuh dengan kendaraan roda 4 atau roda 2.

more »

Arti Lambang

Lambang Daerah Propinsi Kalimantan Selatan berbentuk “PERISAI” dengan warna merah dan hijau, bergaris sisi dengan warna kuning.

Perisai adalah alat penangkis dan bertahan yang melambangkan kewaspadaan dan kesanggupan mempertahankan diri;

Warna Merah, melambangkan keberanian dan kepahlawanan yang gagah perkasa, berjiwa hidup dan dinamis guna menegakkan kebenaran perjuangan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam menuju “Masyarakat Adil dan Makmur yang Diridhai Allah”;

Warna Hijau, melambangkan kesuburan dan harapan bagi Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan dihari yang akan datang;

Warna Kuning, pada sisi perisai, melambangkan bahwa penduduk Kalimantan mempunyai Keperibadian dan kerohanian yang luhur dengan penuh Keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Intan Berwarna Putih Berkilap Memancar

Intan, melambangkan penghasilan Daerah Kalimantan Selatan yang sudah terkenal karena mempunyai mutu dan nilai yang sangat tinggi, yang merupakan sumber mata pencaharian penduduk Daerah Kalimantan Selatan.

Warna Putih Berkilap Memancar, melambangkan bahwa penduduk Kalimantan Selatan kalau dipimpin dengan sungguh-sungguh akan sanggup mencapai kecerdasan dan kemajuan serta sanggup pula melaksanakan segala pembangunan menuju kepada kemuliaan dan keagungan Bangsa Indonesia.

Bintang Berwarna Kuning Emas

Melambangkan ke-Tuhanan Yang Maha Esa dan perlambang keyakinan bahwa Tuhan mengetahui segala-galanya tanpa ada yang tersembunyi bagi-Nya;

Rumah Banjar Berwarna Hitam

Rumah, berbentuk bangunan spesifik Kalimantan Selatan asli, melambangkan suatu unsur kebudayaan yang dapat dibanggakan.

Warna Hitam, melambangkan bahwa penduduk Kalimantan Selatan mempunyai kebulatan tekad dan keunggulan menuju kearah pelaksanaan Pembangunan Nasional Semesta Berencana.

Buah Padi dan Batang Karet

Melambangkan bagian terbesar dari penghasilan dan sumber kehidupan bagi penduduk Kalimantan Selatan.

Buah padi sebanyak 17 [tujuh belas] buah, intan dengan 8 [delapan] pancaran dan Batang Karet sebanyak 1 [satu] pohon dengan bergaris 9 [sembilan] yang tersusun 4 [empat] di sebelah kiri dan 5 [lima] di sebelah kanan adalah merupakan susunan angka 17-8-1945, angka ini melambangkan bahwa penduduk Kalimantan Selatan tetap setia dan tetap Teguh mendukung Proklamasi 17-8-1945.

Pita Warna Putih

Melambangkan bahwa penduduk Kalimantan Selatan sanggup mengikat apa yang dirasakan kesucian dan keikhlasan hati untuk berbuat secara jujur dan bertanggung jawab dengan disertai semanggat kerja sama dan gotong royong.

Tulisan berupa semboyan “WAJA SAMPAI KAPUTING“, melambangkan bahwa penduduk Kalimantan Selatan telah tekun dalam bekerja melaksanakan segala sesuatunya dengan penuh rasa kesanggupan dan konsekwen tanpa berhenti ditengah jalan.

TARI DAYAK

Dayak merupakan sebutan bagi penduduk asli pulau Kalimantan. Pulau kalimantan terbagi berdasarkan wilayah Administratif yang mengatur wilayahnya masing-masing terdiri dari: Kalimantan Timur ibu kotanya Samarinda, Kalimantan Selatan dengan ibu kotanya Banjarmasin, Kalimantan Tengah ibu kotanya Palangka Raya, dan Kalimantan Barat ibu kotanya Pontianak.

1. Tari Gantar
Tarian yang menggambarkan gerakan orang menanam padi. Tongkat menggambarkan kayu penumbuk sedangkan bambu serta biji-bijian didalamnya menggambarkan benih padi dan wadahnya.

Tarian ini cukup terkenal dan sering disajikan dalam penyambutan tamu dan acara-acara lainnya.Tari ini tidak hanya dikenal oleh suku Dayak Tunjung namun juga dikenal oleh suku Dayak Benuaq. Tarian ini dapat dibagi dalam tiga versi yaitu tari Gantar Rayatn, Gantar Busai dan Gantar Senak/Gantar Kusak.

2. Tari Kancet Papatai / Tari Perang
Tarian ini menceritakan tentang seorang pahlawan Dayak Kenyah berperang melawan musuhnya. Gerakan tarian ini sangat lincah, gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan si penari.

Dalam tari Kancet Pepatay, penari mempergunakan pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dilengkapi dengan peralatan perang seperti mandau, perisai dan baju perang. Tari ini diiringi dengan lagu Sak Paku dan hanya menggunakan alat musik Sampe.

[attachment=0:329qp0uo]DAYAK1.jpg[/attachment:329qp0uo]

3. Tari Kancet Ledo / Tari Gong
Jika Tari Kancet Pepatay menggambarkan kejantanan dan keperkasaan pria Dayak Kenyah, sebaliknya Tari Kancet Ledo menggambarkan kelemahlembutan seorang gadis bagai sebatang padi yang meliuk-liuk lembut ditiup oleh angin.

Tari ini dibawakan oleh seorang wanita dengan memakai pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dan pada kedua tangannya memegang rangkaian bulu-bulu ekor burung Enggang. Biasanya tari ini ditarikan diatas sebuah gong, sehingga Kancet Ledo disebut juga Tari Gong.

4. Tari Kancet Lasan
Menggambarkan kehidupan sehari-hari burung Enggang, burung yang dimuliakan oleh suku Dayak Kenyah karena dianggap sebagai tanda keagungan dan kepahlawanan. Tari Kancet Lasan merupakan tarian tunggal wanita suku Dayak Kenyah yang sama gerak dan posisinya seperti Tari Kancet Ledo, namun si penari tidak mempergunakan gong dan bulu-bulu burung Enggang dan juga si penari banyak mempergunakan posisi merendah dan berjongkok atau duduk dengan lutut menyentuh lantai. Tarian ini lebih ditekankan pada gerak-gerak burung Enggang ketika terbang melayang dan hinggap bertengger di dahan pohon.

5.Tari Leleng
Tarian ini menceritakan seorang gadis bernama Utan Along yang akan dikawinkan secara paksa oleh orangtuanya dengan pemuda yang tak dicintainya. Utan Along akhirnya melarikan diri kedalam hutan. Tarian gadis suku Dayak Kenyah ini ditarikan dengan diiringi nyanyian lagu Leleng.

6. Tari Hudoq
Tarian ini dilakukan dengan menggunakan topeng kayu yang menyerupai binatang buas serta menggunakan daun pisang atau daun kelapa sebagai penutup tubuh penari. Tarian ini erat hubungannya dengan upacara keagamaan dari kelompok suku Dayak Bahau dan Modang. Tari Hudoq dimaksudkan untuk memperoleh kekuatan dalam mengatasi gangguan hama perusak tanaman dan mengharapkan diberikan kesuburan dengan hasil panen yang banyak.

7. Tari Hudoq Kita’
Tarian dari suku Dayak Kenyah ini pada prinsipnya sama dengan Tari Hudoq dari suku Dayak Bahau dan Modang, yakni untuk upacara menyambut tahun tanam maupun untuk menyampaikan rasa terima kasih pada dewa yang telah memberikan hasil panen yang baik. Perbedaan yang mencolok anatara Tari Hudoq Kita’ dan Tari Hudoq ada pada kostum, topeng, gerakan tarinya dan iringan musiknya. Kostum penari Hudoq Kita’ menggunakan baju lengan panjang dari kain biasa dan memakai kain sarung, sedangkan topengnya berbentuk wajah manusia biasa yang banyak dihiasi dengan ukiran khas Dayak Kenyah. Ada dua jenis topeng dalam tari Hudoq Kita’, yakni yang terbuat dari kayu dan yang berupa cadar terbuat dari manik-manik dengan ornamen Dayak Kenyah.

8. Tari Serumpai
Tarian suku Dayak Benuaq ini dilakukan untuk menolak wabah penyakit dan mengobati orang yang digigit anjing gila. Disebut tarian Serumpai karena tarian diiringi alat musik Serumpai (sejenis seruling bambu).
Belian
Tari Belian Bawo

9. Tari Belian Bawo
Upacara Belian Bawo bertujuan untuk menolak penyakit, mengobati orang sakit, membayar nazar dan lain sebagainya. Setelah diubah menjadi tarian, tari ini sering disajikan pada acara-acara penerima tamu dan acara kesenian lainnya. Tarian ini merupakan tarian suku Dayak Benuaq.

10. Tari Kuyang
Sebuah tarian Belian dari suku Dayak Benuaq untuk mengusir hantu-hantu yang menjaga pohon-pohon yang besar dan tinggi agar tidak mengganggu manusia atau orang yang menebang pohon tersebut.

11. Tari Pecuk Kina
Tarian ini menggambarkan perpindahan suku Dayak Kenyah yang berpindah dari daerah Apo Kayan (Kab. Bulungan) ke daerah Long Segar (Kab. Kutai Barat) yang memakan waktu bertahun-tahun.

12. Tari Datun
Tarian ini merupakan tarian bersama gadis suku Dayak Kenyah dengan jumlah tak pasti, boleh 10 hingga 20 orang. Menurut riwayatnya, tari bersama ini diciptakan oleh seorang kepala suku Dayak Kenyah di Apo Kayan yang bernama Nyik Selung, sebagai tanda syukur dan kegembiraan atas kelahiran seorang cucunya. Kemudian tari ini berkembang ke segenap daerah suku Dayak Kenyah.

13. Tari Ngerangkau
Tari Ngerangkau adalah tarian adat dalam hal kematian dari suku Dayak Tunjung dan Benuaq. Tarian ini mempergunakan alat-alat penumbuk padi yang dibentur-benturkan secara teratur dalam posisi mendatar sehingga menimbulkan irama tertentu.

14. Tari Baraga’ Bagantar
Awalnya Baraga’ Bagantar adalah upacara belian untuk merawat bayi dengan memohon bantuan dari Nayun Gantar. Sekarang upacara ini sudah digubah menjadi sebuah tarian oleh suku Dayak Benuaq.

Hello Sobat..!!!

Alhamdulillah….

Welcome…
Seneng rasanya sobat2 cmua berkunjung di blog Q,,,
C’moga isi blog nee bisa bermanfaat bagi sobat2 cmua…

Trims ^_^